
Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi, dunia pendidikan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Bukan hanya soal bagaimana siswa mampu menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga bagaimana mereka tetap berpegang pada nilai-nilai karakter dan akhlak mulia.
Kita melihat begitu banyak contoh di sekitar kita: anak-anak yang lebih akrab dengan smartphone daripada buku, komunikasi yang semakin singkat lewat WA, hingga menipisnya rasa hormat kepada orang tua maupun guru. Semua ini menjadi alarm bahwa pendidikan karakter tidak bisa lagi dipandang sebagai kebutuhan sekunder, tetapi harus menjadi prioritas dan kebutuhan primer.
Madrasah memiliki keistimewaan dalam hal ini. Sebagai lembaga yang mengintegrasikan ilmu umum dan ilmu agama, madrasah memiliki ruang luas untuk menanamkan nilai Islami sejak dini. Pendidikan karakter tidak diajarkan lewat teori semata, melainkan ditanamkan melalui pembiasaan: shalat berjamaah, tadarus Al-Qur’an, menjaga kebersihan, hingga budaya salam dan senyum.
Tantangan terbesar bagi kita semua adalah konsistensi atau istiqomah. Sebab, karakter Islami hanya bisa terbentuk jika seluruh ekosistem madrasah berjalan seirama: guru memberi teladan, siswa dibiasakan disiplin, orang tua ikut menguatkan di rumah. Keteladanan guru ketika sabar membimbing, atau orang tua ketika konsisten mengajarkan adab, adalah “pelajaran hidup” yang jauh lebih berharga daripada teori apa pun.
Madrasah tidak boleh berhenti pada slogan. Pendidikan karakter Islami harus dihidupkan dalam keseharian. Dengan begitu, siswa tidak hanya menjadi cerdas secara akademik, tetapi juga berakhlak mulia. Dan inilah bekal utama mereka untuk menghadapi masa depan.
Agus Salim Tanjung, MA
Kepala MTsN 1 Kota Pekanbaru